6 Fakta Menarik Festival Pacu Jalur di Kuantan Singingi Riau

Dicky Taruna

Mengenal tradisi lomba pacu jalur yang viral sampai ke luar negeri
Ilustrasi tradisi lomba pacu jalur yang viral sampai ke luar negeri (gambar dibuat dengan AI)

Halo sobat! Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki budaya unik disetiap daerah yang selalu menjadi pusat perhatian wisatawan baik dari dalam hingga luar negeri, salah satunya Festival Pacu Jalur. Karena keunikannya, tak jarang postingan foto dan video acara ini selalu viral di sosial media. 

Pacu jalur merupakan perlombaan mendayung perahu tradisional di daerah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau, tepatnya di Sungai Kuantan, dimana setiap perahu terdiri dari 40 hingga 60 orang yang beradu kecepatan hingga ke garis finish.

Festival ini sudah menjadi acara nasional yang rutin diadakan setiap tahun di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, Kabupaten Singingi. Biasanya event adu balap perahu ini dilaksanakan saat menjelang atau setelah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dibalik riuhnya festival yang mendunia ini terdapat beberapa fakta yang menarik untuk disimak, berikut ini 6 fakta menarik dibalik viralnya pacu jalur.

Dari naskah lokal, kata pacu jalur disebutkan di abad ke-17 bahkan terdapat pada prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang. Dijelaskan pada abad ke-7, sejumlah besar utusan pendayung Minangkabau melewati beberapa kecamatan hingga mencapai hilir sungai Batang Hari di Jambi menggunakan sampan. 

Awalnya, perahu-perahu ini berfungsi sebagai alat transportasi utama untuk mengangkut hasil bumi dan tebu, mengingat minimnya akses darat saat itu. Namun seiring waktu, identitas alat transportasi tersebut bergeser drastis dari sekedar alat angkut kemudian berevolusi menjadi tongkang kerajaan mewah.

Ilustrasi perahu jalur digunakan oleh bangsawan pada zaman kerajaan
Ilustrasi perahu jalur digunakan oleh bangsawan pada zaman kerajaan (gambar dibuat dengan AI)

Perahu-perahu tersebut dihiasi ukiran kepala ular dan buaya di bagian ujungnya yang digunakan khusus untuk menyambut kunjungan para bangsawan dan raja.

Di zaman penjajahan belanda, pacu jalur digunakan sebagai pemeriah hari ulang tahun ratu Belanda yang bernama ratu Wilhelmina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus hingga 1 atau 2 September. 

2. Pembuatan “jalur” yang rumit dan penuh perhitungan

Jalur (sampan tradisional) terbuat dari kayu gelondongan kualitas terbaik khas Rantau Kuantan. Jenis kayu tersebut diantaranya banio dan kulim kuyiang dengan panjang sekitar 25-30 meter tanpa potongan. 

Etnis Kuantan Singingi percaya bahwa beberapa jenis kayu memiliki kekuatan magis karena diyakini dihuni oleh mambang (semacam makhluk halus). Oleh karena itu, pemilihan kayu menjadi langkah awal yang sangat penting, serta perlu mempertimbangkan aspek spiritualnya.

Pembuatan perahu untuk pacu jalur dilakukan secara gotong royong dan turun temurun
Pembuatan perahu untuk pacu jalur dilakukan secara gotong royong dan turun temurun

Setelah kayu dipilih, proses selanjutnya adalah mengeruk dan menghaluskan bagian dalam kayu hingga mencapai ketebalan yang seimbang. Tahap ini juga melibatkan manggaliak, yaitu keahlian perhitungan cermat untuk menentukan ketebalan yang optimal.

Selain itu, pada proses pembuatan jalur juga dikenal istilah maelo jalur, yakni sebuah kegiatan gotong royong di mana masyarakat sekitar bersama-sama membawa perahu ke sungai untuk diuji coba.

Baca juga: Jangan Bilang Pernah ke Bogor Kalau Belum Cicip Roti Unyil Venus.

3. Puncak festival pacu jalur tradisional rutin diadakan setiap Agustus

Rangkaian perayaan pacu jalur umumnya dimulai antara bulan Mei hingga puncaknya di bulan Agustus, yakni bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebagai contoh, untuk pacu jalur 2025 tahun ini, rangkaian acara diadakan dalam beberapa rayon yang dimulai pada bulan Juni. Acara tersebut diselenggarakan di Rayon Hulu Kuantan, Rayon Cerenti, kemudian berakhir pada puncak acara Festival Pacu Jalur Karisma Event Nusantara yang dijadwalkan tanggal 20-24 Agustus 2025 di Tepian Narosa, Teluk Kuantan.

Rangkaian lomba perahu pacu jalur dimulai dari tingkat rayon (kecamatan)
Rangkaian lomba perahu pacu jalur dimulai dari tingkat rayon (kecamatan)

Kemeriahan tradisi pacu jalur tidak hanya dirasakan oleh para peserta yang berlaga di lintasan, tetapi juga menyebar ke seluruh Kota Teluk Kuantan. Segala keringat dan usaha yang telah dicurahkan selama setahun penuh membuat masyarakat Kuantan Singingi sangat antusias menyambut dan menyaksikan acara ini.

Selain disuguhkan pesta rakyat dan lomba adu kecepatan jalur, beberapa jalur-jalur yang berlaga juga dihias dengan beragam motif indah pada lambungnya oleh masing-masing tim.

Kemeriahan semakin memuncak dengan dentuman meriam keras yang menandakan dimulainya perlombaan. Suara ini membakar euforia dan semangat baik bagi para penonton maupun peserta yang akan berlaga.

4. Fenomena bocah penari “Aura Farming”

Anak pacu yang belakangan viral di Tiktok, Instagram dan Youtube salah satunya merupakan seorang penari cilik berumur 11 tahun yang bernama Rayyan Arkan Dikha. Bocah yang berasal dari Kuantan Singingi ini dijuluki “Aura Farming” karena aksi luwesnya melakukan gerakan tari diatas pacu yang sedang melaju cepat.

Sosok penari cilik di arena pacu jalur sempat dijuluki aura farming oleh netizen global
Sosok penari cilik di arena pacu jalur sempat dijuluki “aura farming” oleh netizen global

Saking trendnya video tersebut hingga netizen luar negeri termasuk klub-klub sepakbola internasional seperti AC Milan dan PSG ikut memparodikannya dengan melibatkan bintang dunia seperti Neymar Jr. Postingan tersebut mengundang reaksi beragam dari netizen yang membanjiri kolom komentar dengan tagar #pacujalur dan salam kayuah.

5. Sempat ingin di klaim oleh Malaysia

Belum lama ini, kegiatan Pacu Jalur menjadi sorotan publik setelah netizen Malaysia mengklaim bahwa Pacu Jalur berasal dari negara mereka. Klaim ini memicu reaksi dari netizen dan pemerintah Indonesia.

Melalui sebuah tayangan wawancara, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa pihaknya berencana akan mengusulkan Festival Pacu Jalur tradisional kepada UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmiah, dan Kebudayaan PBB). Tujuannya agar Pacu Jalur diakui secara internasional sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

6. Pernah menjadi Google Doodle

Festival Pacu Jalur sempat eksis mewarnai kolom pencarian Google di tahun 2022 sebagai “Google Doodle” untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke-77. Gambar digital tersebut merupakan hasil karya seniman asal Bandung yang bernama Wastana Haikal. 

Berkat media promosi dari Google tersebut membuat kesenian tradisional pacu jalur semakin dikenal dunia internasional dan menjadi kebanggaan rakyat Indonesia.

Also Read

Bagikan:

Tinggalkan komentar


Ads - Before Footer