Mengintip Wajah Baru Kota Tua Jakarta

Indra Gumilar

Stasiun Jakarta Kota
Stasiun Jakarta Kota

Pemprov DKI Jakarta yang dimpin oleh Anies Baswedan hampir selesai merampungkan revitalisasi Kawasan Kota Tua Jakarta dan sekitarnya.

Jika pada tahun 2018 yang direvitalisasi Kali Krukut di Kawasan Kali Besar. Untuk tahun 2022 ini, area yang direvitalisasi berada disekitar Stasiun Jakarta Kota, Plaza Beos, Jalan Lada hingga ke Taman Fatahillah.

Kali Krukut Kota Tua

Revitalisasi yang dimaksud berupa pembuatan area bebas kendaraan bermotor, pembuatan jalur pejalan kaki yang luas, jalur sepeda, serta fasilitas kursi taman dan air mancur di beberapa titik lokasi.

Berkunjung ke Kawasan Kota Tua tidak lengkap rasanya jika tidak sekalian mengenal sejarah lokasi tersebut.

Tulisan pada artikel ini sekaligus untuk menambah wawasan bagi saya pribadi serta bagi para pembaca yang budiman. Yuk mari sama-sama disimak!

Pada tahun 1972, Kota Tua ditetapkan sebagai situs warisan sejarah oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Kota Tua memang memiliki riwayat yang sangat panjang yang menjadi saksi bisu cikal bakal Kota Jakarta yang kita kenal saat ini.

Kisah bermula dari Sunda Kelapa yang ditaklukan oleh Kerajaan Demak-Cirebon yang dipimpin oleh Fatahillah pada tahun 1527. Pada masa itu, nama Sunda Kelapa diubah menjadi Jayakarta.

Kapal bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa
Kapal di Pelabuhan Sunda Kelapa

Kemudian di tahun 1619, VOC mulai masuk ke Jayakarta. Mereka membangun sebuah kota kolonial dengan pusat pemerintahan di Kawasan Kota Tua. Nama Jayakarta diubah menjadi Batavia dibawah kendali Gubernur VOC Jan Pieterszoon Coen.

Tanggal 5 Maret 1942, Batavia berhasil direbut oleh tentara Jepang dari armada gabungan tentara Belanda. Beberapa bulan berselang, pemerintah pendudukan Jepang mengganti nama Batavia dengan Djakarta (Djakarta Tokubetsu Shi), tepatnya pada bulan Desember tahun 1942.

Kisah berlanjut ke tanggal 30 September 1949. Pada saat itu, dihadapan para delegasi Konferensi Meja Bundar di Deen Haag, Belanda. Arnold Isaac Zacharias Mononutu menjadi sosok pertama yang menyampaikan perubahan nama Djakarta menjadi Jakarta. Beliau merupakan Menteri Penerangan pada Kabinet Republik Indonesia Serikat tahun 1949 hingga 1950.

Pada akhirnya, status Kota Jakarta berubah menjadi DKI (Daerah Khusus Ibu Kota) dan ditetapkan sebagai Ibu Kota Negara Indonesia sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 1964.

Wajah Kota Tua Jakarta saat ini

Belakangan ini, ternyata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali mengusulkan nama Kota Tua menjadi Batavia. Namun demikian, nama Kota Tua sudah sangat melekat di masyarakat, khususnya bagi wisatawan.

Beberapa waktu yang lalu saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke daerah Kota Tua. Melihat hasil dari revitalisasi yang sudah mulai tampak perubahannya.

Apa saja perubahan wilayah Kota Tua yang cukup signifikan? Berikut penjelasannya:

Halte TransJakarta disulap jadi area Plaza Beos

Salah satu bentuk revitalisasi yang cukup terasa perubahannya adalah ruang terbuka yang semakin luas. Contohnya, halte TransJakarta di Stasiun Jakarta Kota yang semula berada di sebrang Museum Mandiri. Saat ini halte tersebut sudah dibongkar dan berubah menjadi area terbuka Plaza Beos.

Plaza Beos Kota Tua Jakarta
Plaza Beos Kota Tua Jakarta

Area lapang terbuka di Plaza Beos mengingatkan saya dengan wisata alun-alun yang populer di Eropa. Meskipun pada saat saya berkunjung kesana lokasi tersebut belum sepenuhnya rampung, namun vibesnya sudah terasa.

Halte TransJakarta Stasiun Kota direlokasi

Teman-teman yang sering mengakses TransJakarta dari Stasiun Jakarta Kota tidak perlu khawatir. Halte TransJakarta yang semula berada di depan Museum Mandiri, saat ini sudah dipindah ke sekitar Jalan Lada. Tepatnya di samping Gedung BNI.

Halte Stasiun Kota Baru
Halte Stasiun Kota Baru

Jika sebelumnya untuk menuju ke halte kita harus berjalan ke lorong terlebih dahulu. Saat ini pengguna KRL di Stasiun Jakarta Kota tinggal berjalan ke sisi kanan saat turun dari kereta. Halte tersebut sudah terintegrasi dengan stasiun kereta commuter line.

Kota Tua kini ramah bagi pejalan kaki

Perubahan area Kota Tua berikutnya berupa perluasan trotoar bagi pejalan kaki. Sebelum direvitalisasi, jalan di seputaran Kota Tua selalu padat oleh pengendara baik itu kendaraan pribadi maupun angkot yang sering ngetem. Belum lagi banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan di atas trotoar, yang cukup mengurangi kenyamanan para pejalan.

Saat ini kondisi di Kota Tua tersebut sudah sangat berubah. Luas trotoar diperlebar, area bebas kendaraan diperluas, dan para pedagang kaki lima ditempatkan di lokasi khusus. Ini merupakan berkah bagi orang yang hobi berjalan kaki seperti saya.

Pedestrian Kota Tua Jakarta

Yang spesialnya lagi, selain ramah untuk para pejalan kaki. Jalanan di Kota Tua ramah pula bagi pengendara sepeda dan penyandang disabilitas. Jalur sepeda ditandai dengan marka jalan yang terdapat gambar atau logo sepeda. Untuk penyandang disabilitas, jalur pada ubin sudah dilengkapi dengan guiding block.

Kota Tua bebas dari Pedagang Kaki Lima

Para pedagang kali lima bukan tidak boleh berjualan di wilayah Kota Tua Jakarta. Sejauh yang saya lihat, mereka direlokasi ke tempat khusus yang masih di area sekitar Kota Tua. Salah satunya di lokasi binaan Kota Intan. Menurut informasi, akan ada beberapa lokasi lain yang menyusul nantinya untuk dijadikan sentra pedagang kaki lima disana.

Apabila dilihat dari kacamata pedagang, perpindahan ini mungkin saja menimbulkan penurunan omzet. Karena wisatawan belum banyak yang tahu lokasi baru sentra pedagang kaki lima disana. Nah, bagi teman-teman yang punya rencana kunjungan wisata ke Kota Tua, jangan lupa mampir dan jajan di lokasi baru pedagang kaki lima ya!

Rekomendasi aktifitas wisata di Kota Tua Jakarta

Wilayah Kota Tua memiliki area yang luas. Banyak yang bisa dieksplorasi ketika berkunjung kesana. Berikut beberapa rekomendasi aktifitas yang bisa dilakukan selama kunjungan ke Kota Tua Jakarta.

1. Hunting foto bangunan bersejarah

Bagi pecinta fotografi, Kota Tua Jakarta harus dimasukan kedalam daftar lokasi yang dikunjungi untuk hunting foto. Objek bangunan tua yang eksotis dan bersejarah menjadi daya tarik utama para fotografer.

Objek bangunan yang bisa dibidik diantaranya, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Gedung BNI, Taman Fatahillah, Toko Merah dan masih banyak yang lainnya.

Toko Merah Kota Tua

Selain memotret objek bangunan. Teman-teman juga bisa mencoba memontret dengan gaya street photography atau human interest.

2. Keliling museum di Kota Tua Jakarta

Di kawasan Kota Tua terdapat beberapa museum. Jika teman-teman tertarik dengan kisah sejarah tempo dulu. Berkunjung ke museum di wilayah ini wajib untuk dilakukan. Cobalah berkunjung ke Museum Mandiri, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, serta Museum Fatahillah.

Museum Keramik & Seni Rupa
Museum Keramik & Seni Rupa

3. Kulineran di cafe legendaris

Salah satu cafe yang paling terkenal dan legendaris di Kota Tua adalah Cafe Batavia. Gedung tempat cafe tersebut beroperasi sudah ada dari tahun 1884 loh!

Cafe ini menjadi daya tarik para pelancong baik dari dalam maupun luar negeri. Menu yang disajikan cukup variatif mulai dari menu khas lokal Indonesia, chinese food, hingga western food. Range harga makanan di cafe tersebut berkisar pada Rp 100.000 hingga Rp 200.000.

4. Bersantai di Taman Fatahillah

Taman Fatahillah merupakan lokasi yang paling populer di wilayah Kota Tua. Para pelancong banyak yang berkumpul pada titik tersebut, karena disana menjadi pusat aktifitas wisatawan.

Taman Fatahillah

Teman-teman bisa duduk-duduk santai sambil bercengkrama bersama teman atau keluarga. Bisa juga berfoto seflie mengabadikan momen. Mendengarkan live musik, atau dapat pula menyewa sepeda.

Sekian artikel kali ini, pesan saya selama melakukan aktifitas disana jangan lupa untuk tetap menjaga ketertiban dan kebersihan ya!

Also Read

Bagikan:

Traveler Blogger and Search Engine Optimization Specialist who finds joy in exploring mountains, embarking on solo adventures, and discovering culinary delights.