Desa Wisata Malasari, Harta Karun di Ujung Bogor

Indra Gumilar

Desa Wisata Malasari
Desa Wisata Malasari

Malasari, sebuah desa wisata yang memiliki sejarah dan eksotisme lingkungan alam yang tak ternilai. Desa ini berlokasi di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Desa Malasari bagaikan kepingan harta karun, disana terdapat jejak-jejak peninggalan sejarah Bogor dari zaman penjajahan. Mulai dari bangunan kantor bupati pertama di Bogor, hingga kebun teh serta Research Station Cikaniki.

Setelah memupuk niat yang cukup lama, serta tiada kawan pula yang mau diajak kesana. Jiwa-jiwa solo traveler saya keluar diujung tekad yang sudah bulat. Berikut kisah perjalanan saya ke Desa Wisata Malasari, sendirian.

Letak geografis Malasari berbatasan dengan wilayah Sukabumi dan wilayah Provinsi Banten. Terdapat dua rute yang umum digunakan oleh para pelancong, yakni via Sukabumi atau via Leuwiliang – Kecamatan Nanggung. Kedua rute tersebut sama-sama memiliki akses jalan yang cukup berat.

Jelang memasuki Desa Malasari, saya banyak menemui jalan berbatu yang panjangnya bukan satu atau dua kilometer. Jaraknya bisa belasan kilometer. Sudah terbayang gimana rasanya?

Saya memilih rute keberangkatan Leuwiliang – Nanggung – Malasari, dan pulang ke arah Sukabumi (Cipeuteuy, Kabandungan) – Kebun Teh Cianten Herang – Leuwiliang.

Rute dari Desa Malasari menuju Sukabumi menembus hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Rute Malasari ke Sukabumi

Google Maps biasanya mencarikan rute tercepat. Namun perlu dicatat, rata-rata jalan disana rusak berat, bahkan ada yang tidak layak dilalui kendaraan roda empat. Jangan sampai Google Maps mengarahkan ke rute tersebut.

Baca juga: Kegiatan Teaching dan Camping Bareng Komunitas 1000 Guru Bogor.

Mengintip Kantor Bupati Pertama di Bogor

Setelah satu jam lebih berkendara motor dari Leuwiliang. Saya tiba di depan pintu gerbang menuju ke Kebun Teh Nirmala dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Tujuan pertama saya adalah mengunjungi situs budaya berupa Kantor Bupati Bogor pertama yang dibangun pada masa kolonial.

Sebelum masuk ke pintu gerbang, arahkan kendaraan ke sebelah kiri, mengikuti jalan melalui hutan pinus. Sekitar dua kilometer, saya tiba di Kantor Bupati Bogor yang letaknya beberapa meter dibelakang Kantor Desa Malasari. 

Kantor Bupati Bogor pertama pada masa kolonial Belanda
Kantor Bupati pertama di Bogor

Bangunan ini dulunya merupakan Kantor Bupati Bogor pertama pasca Agresi Militer Belanda II.

Desa Malasari menjadi markas darurat pemerintahan sipil Kabupaten Bogor karena lokasinya dinilai aman dari serbuan tentara Belanda. Kursi pemerintahan Kabupaten Bogor saat itu dipimpin oleh Raden Ipik Gandamanah.

Penjelasan sejarah lengkapnya nanti saya buatkan artikel khusus, ya!

Menginap di Kampung Citalahab Central Malasari

Sudah jauh-jauh ke Desa Malasari tidak lengkap rasanya jika tidak berkunjung ke Kampung Citalahab. Jaraknya sekitar lima belas kilometer dari Kantor Desa Malasari. Cukup jauh dan penuh perjuangan memang untuk mencapai kesana.

Citalahab merupakan kampung binaan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak Resort Cikaniki. Lokasinya tepat di jantung taman nasional.

Masyarakat Citalahab sangat paham akan pentingnya kelestarian hutan dan alam, disana mereka tidak membuang sampah sembarangan. Sampah dikelola dengan baik agar tidak merusak lingkungan.

Di Citalahab sudah ada beberapa homestay yang dikelola oleh warga setempat. Misalnya saja homestay milik Kang Asep. Beliau merupakan warga lokal yang menjadi pemandu saya selama disana.

Homestay milik Kang Asep di Citalahab Central Desa Malasari
Homestay Kang Asep

Kang Asep menawarkan homestay di Citalahab dengan harga sewa per kamar Rp150.000 untuk satu malam. Wisatawan juga dapat menyewa satu unit homestay dengan tiga kamar di dalamnya.

Harga sewa untuk satu homestay sekitar Rp550.000 per malam. Terdapat fasilitas dapur sharing serta kamar mandi dengan sumber air sejuk dari pegunungan.

Booking Homestay di Citalahab
Fasilitas homestay per kamar atau sewa satu rumah.

Pilihan saya saat itu bukan menginap di homestay. Saya lebih memilih mendirikan tenda di lokasi kemah yang letaknya tidak jauh. Biaya mendirikan tenda untuk satu malam sebesar Rp35.000.

Lokasi camp disini sangat spesial karena dekat dengan sungai yang airnya sangat jernih. Buat saya yang hobi mendaki gunung dan camping ceria, sangat sayang untuk melewatkan pengalaman camping di Citalahab.

Camping ground Citalahab Central Desa Malasari dekat dengan sungai jernih
Sungai jernih di dekat Camp Area

Jungle Trekking di TNGHS Resort Cikaniki

Kampung Citalahab merupakan kampung paling ujung yang terdapat di Desa Malasari. Kampung ini berdampingan langsung dengan hutan hujan tropis yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna. Saya mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi hutan yang sering dijadikan lokasi penelitian oleh para peneliti dari dalam dan luar negeri tersebut.

Saat itu saya ditemani Kang Asep, pemandu setempat yang sudah berpengalaman dan bersertifikat. Beliau menawarkan jasa pemandu yang akan mendampingi pengunjung keberbagai lokasi menarik disana.

Berkunjung ke habitat glowing mushroom (jamur yang bisa menyala) di Malasari
Glowing Mushroom di Resort Cikaniki

Kang Asep mengenalkan saya akan manfaat dari beberapa tanaman yang kami jumpai selama berjalan kaki.

Pada beberapa kesempatan, kami juga berhenti sejenak untuk mengamati burung-burung yang terbang diantara ranting pohon. Adapula tingkah primata yang melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Sungguh pengalaman ini sudah saya idam-idamkan sedari kecil.

Berjalan di Atas Canopy Trail Cikaniki

Dua jam berjalan menyusuri hutan, kami tiba dipenghujung jalur trekking. Sebelum sampai ke garis finish, saya diajak Kang Asep untuk mencoba canopy trail yang memang kita lewati. Loop trail ini fungsinya untuk mengamati satwa atau tumbuhan diatas kanopi pohon.

Canopy trail di Cikaniki Resort Station diperkirakan sudah ada dari zaman penjajahan, sama halnya dengan perkebunan teh Nirmala yang berada dekat dengan taman nasional.

Berjalan diatas jembatan Canopy Trail Research Station Cikaniki
Canopy trail di Citalahab, Malasari

Tips Berkunjung ke Desa Wisata Malasari

Waktu yang ideal untuk mengeksplorasi Desa Wisata Malasari, khususnya di Citalahab Central sebaiknya 3 hari 2 malam. Banyak lokasi-lokasi yang tidak cukup untuk dijelajah selama satu hari saja. Ditambah lagi, effort yang cukup besar untuk bisa sampai kesana, rasanya sayang jika harus buru-buru pulang ke rumah.

Berikut ini ada beberapa tips buat teman-teman yang ingin melakukan kunjungan ke Desa Wisata Malasari. Tips ini berdasarkan pengalaman kunjungan saya pada saat itu:

  • Pertama, siapkan fisik dan mental untuk menghadapi jalanan yang rusak.
  • Kedua, siapkan kendaraan dengan baik, cek mesin, oli rem, ban dan lain-lain.
  • Ketiga, bawa uang tunai yang cukup, disana tidak ada mesin ATM.

Nomor Informasi Kontak Citalahab Central

Berikut ini nomor kontak warga Citalahab yang bisa teman-teman manfaatkan untuk sekedar bertanya, atau untuk menggunakan jasa yang mereka tawarkan (sewa homestay, jasa pemandu, dan lain-lain)

Kang Asep0857-5922-7499
Pak Suryana0857-1681-8469
Also Read

Bagikan:

Traveler Blogger and Search Engine Optimization Specialist who finds joy in exploring mountains, embarking on solo adventures, and discovering culinary delights.

2 pemikiran pada “Desa Wisata Malasari, Harta Karun di Ujung Bogor”

Tinggalkan komentar