Gunung dan Sampah Para Pendaki

Indra Gumilar

Gunung Sampah dari Pendaki
Gunung Sampah dari Pendaki

Apakah problematika sampah di gunung sudah menjadi isu yang mengkhawatirkan? Bagi saya jawabannya “iya”. Semakin populer aktifitas pendakian ke gunung tidak dibarengi dengan knowledge yang cukup dari rata-rata para pendaki pendatang baru, sehingga pendaki-pendaki yang FOMO (Fear of Missing Out) seperti ini cenderung banyak mentoleransi atas tindakan mereka ketika membuang sampah.

Tapi mirisnya jejak sampah-sampah dari puluhan tahun yang lalu masih dapat dijumpai di gunung. Hal ini mengindikasikan bahwa kebiasaan membuang sampah ini sudah menjadi kultur negatif yang masih sulit dihapus dari kebiasaan pendakian di Indonesia.

Jenis sampah di jalur pendakian
Jenis sampah di jalur pendakian

Berdasarkan data Operasi Bersih (OPSIH) Trashbag Community Tahun 2022 di Gunung Gede Pangrango, dari total 203,08 kg limbah sampah yang berhasil dibersihkan, jenis sampah plastik merupakan jenis sampah yang paling banyak ditemukan di jalur pendakian.

Urutan pertama ditempati oleh plastik keras dengan presentase 32, 89%. Pada urutan kedua berupa plastik kantong kresek dengan volume sebanyak 25,12%. Melengkapi tiga besar penyumbang sampah terbanyak di gunung adalah sampah plastik kemasan.

Berapa lama sampah di gunung dapat terurai sempurna?

Infografik waktu yang dibutuhkan sampah untuk mengurai
Infografik waktu yang dibutuhkan sampah sampai mengurai

Waktu yang dibutuhkan limbah-limbah yang dibuang pendaki sampai mengurai sempurna ternyata tidak satu atau dua hari loh sob! Banyak diantara daftar jenis limbah diatas yang membutuhkan waktu terurai melebihi umur kita, 1000 tahun!!! Coba Anda bayangkan jika limbah sampah dari pendaki terus dibiarkan menumpuk di gunung.

Berikut ini daftar beberapa limbah yang kemungkinan akan dibawa oleh para pendaki ketika melakukan pendakian:

Jenis LimbahWaktu Terurai
Kertas2-6 minggu
Kardus2-3 bulan
Kulit jeruk6 bulan
Rokok18 bulan – 10 tahun
Kulit pisang> 2 tahun
Tulang10 – 1000 tahun
Kantong kresek10 – 1000 tahun
Sendok/garpu stainless steel50 – 200 tahun
Permen karet50 – 1000 tahun
Kaleng aluminium80 – 100 tahun
Sedotan plastik200 tahun
Botol plastik450 tahun
Masker medis> 450 tahun
Pampers bayi500 tahun
Botol kaca> 1000 tahun
StyrofoamTidak dapat terurai

Kegiatan bersih-bersih gunung di Indonesia

Aksi bersih-bersih gunung
Aksi bersih-bersih gunung

Kegiatan bersih-bersih sampah di gunung sebenarnya sudah sering dilakukan, dari yang terekspos media atau tidak. Contohnya saja komunitas Trashbag Community yang rutin melakukan opsih diberbagai gunung setiap tahunnya.

Pada tahun 2017 komunitas tersebut pernah melakukan operasi bersih serentak di 17 gunung dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. 

Ada pula perusahaan travel Green Rinjani yang melakukan operasi bersih pada tahun 2021 di Gunung Rinjani. Dari opsih tersebut mereka berhasil mengangkut 1,6 ton sampah. Tak mau ketinggalan, Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango juga rutin melakukan opsih setiap dua tahun sekali.

Kegiatan tersebut terbilang sangat positif dan patut diapresiasi setinggi langit. Namun disisi lain, semakin banyak kegiatan bersih-bersih di gunung semakin mem-validasi bahwa jumlah sampah pada jalur pendakian gunung di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Dan hal ini tidak banyak disadari oleh segelintir orang yang rajin meninggalkan sampah di gunung.

Gunung dengan aturan cek sampah di Indonesia

pemeriksaan sampah di gunung
Daftar pengelola yang menrapkan aturan ketat terkait sampah di gunung

Berikut jalur pendakian gunung yang sudah memberlakukan pengecekan sampah pada saat pendakian nih sob! Kalau ada tambahan silahkan chat dikolom komentar ya, nanti akan saya update berkala.

1. Gunung Kembang via Blembem

Pengelola Gunung Kembang via Blembem sangat konsisten terhadap pelestarian alam terutama mengenai dampak wisata pendakian terhadap lingkungan. Maka dari itu pengelola pendakian disana menerapkan aturan ketat mengenai barang bawaan pendaki yang berpotensi menimbulkan limbah sampah.

Apabila melanggar, wisatawan yang melakukan pendakian akan dikenakan berbagai jenis sanksi termasuk salah satunya berupa denda.

Atas effortnya dalam menjaga lingkungan. Pengelola Gunung Kembang via Blembem pernah mendapatkan penghargaan loh sob. Mereka diberikan penghargaan Padmamitra Award 2022 untuk kategori pelestarian lingkungan dan biodiversity. Patut dicontoh untuk pengelola gunung lainnya di Indonesia.

2. Gunung Merbabu via Selo

Pendakian ke Gunung Merbabu via Selo dikenal dengan aturan yang sangat ketat perihal sampah. Jumlah sampah harus sesuai dengan catatan pada saat registrasi, termasuk sampah yang ukurannya kecil seperti puntung rokok atau bungkus permen.

3. Gunung Sindoro via Kledung

Kledung, Temanggung, merupakan jalur favorit pendakian ke Gunung Sindoro. Pihak pengelola disana juga sudah menerapkan aturan membawa turun sampah kembali sesuai dengan jumlah yang dibawah naik.

Saking ketatnya, pengelola basecamp Gunung Sindoro bahkan pernah memberikan blacklist kepada lima orang pendaki karena kedapatan tidak membawa turun kembali sampah yang mereka hasilkan sendiri. 

4. Gunung Sumbing via Garung & Kaliangkrik

Jika teman-teman mendaki ke Gunung Sumbing, jangan pernah sekali-kali meninggalkan sampah di camp area, atau bahkan sengaja dibuang meskipun ukuran sampahnya kecil.

Basecamp pendakian Gunung Sumbing juga akan melakukan pengecekan sampah yang dibawa oleh para pendaki. Jika terdapat perbedaan dengan data semula, maka teman-teman harus siap menerima denda atau sanksi

Tips mengelola sampah saat pendakian

Tips mengelola sampah di gunung agar teman-teman bisa melewati pemeriksaan sampah tanpa ada kendala:

1. Bawa logistik secukupnya

Terlalu banyak logistik yang dibawa sering menyisakan beban berat yang lumayan ketika turun gunung.

Banyak sekali para pendaki yang membuang sisa-sisa logistik yang tidak habis karena mereka pikir akan cepat terurai dan jejaknya akan cepat hilang. Misalnya sisa nasi yang tak habis, roti, bumbu-bumbu dapur sampai ke minyak goreng.

Padahal tetap saja tindakan tersebut selain mengotori, juga bikin lingkungan menjadi terasa kumuh.

2. Kelompokan logistik yang berpotensi menjadi limbah sampah

Kelompokan logistik bawaan sesuai dengan fungsinya. Misal bumbu-bumbu dapur disimpan kedalam satu kantong atau wadah, setelah itu hitung dan catat jumlahnya.

Begitupula untuk logistik konsumtif yang lain seperti rokok, permen, snack bar, lakulan hal yang sama dan buang sampahnya pada kantong yang sama. Hal ini untuk menghindari selisih sampah karena teman-teman lupa menyimpan limbah tersebut dimana.

3. Limbah sampah jangan digabung menjadi satu

Jangan mencampurkan semua jenis sampah kedalam satu kantong sebelum dikelompokan. Hal ini untuk mempermudah pemeriksaan pada saat sudah turun dari pendakian.

Pada penjelasan sebelumnya, anggap saja teman-teman sudah mengelompokan semua jenis limbah sampah terpisah sesuai kantongnya masing-masing. Setelah itu baru bisa digabung kedalam trashbag.

Cara ini untuk mempermudah pemeriksaan saat turun, misal ketika teman-teman ditanya jumlah sampah kemasan permen. Teman-teman tinggal buka kantong yang sudah dikelompokan tadi.

Also Read

Bagikan:

Indra Gumilar

Traveler Blogger and Search Engine Optimization Specialist who finds joy in conquering mountains, embarking on solo adventures, and exploring culinary delights.

2 pemikiran pada “Gunung dan Sampah Para Pendaki”

  1. Wajib setiap pendaki bawa kantong sampah.waktu naik gng nnti turun akan wajib bawa sampah turun…hasilnya ditukar cendramata dari menejemen gng

    Balas

Tinggalkan komentar


Ads - Before Footer