Setahun bukan waktu yang sebentar untuk tidak naik gunung. Selama itu, saya hanya bisa melihat foto-foto pendakian lama di galeri, sambil merasakan rindu yang aneh, rindu udara dingin, suara hutan, dan lelah yang justru menenangkan.
Sampai suatu hari, seorang teman mengajak saya ikut open trip ke Gunung Kembang via Lengkong dan Gunung Bismo via Sikunang, ajakan itu terasa seperti tanda untuk kembali ke jalur.
Setelah memastikan cuti disetujui, saya langsung mendaftar tanpa banyak pikir. Ada semangat baru yang muncul, sebuah perasaan bahwa akhirnya, saya benar-benar akan kembali ke jalur pendakian.
Gunung Kembang terletak di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Dengan ketinggian sekitar 2.340 mdpl, gunung ini sering disebut sebagai anak Gunung Sindoro karena berada tepat di lerengnya dan terbentuk dari aktivitas vulkanik Sindoro di masa lalu.
Meskipun tidak setenar gunung-gunung besar di sekitarnya seperti Sindoro, Sumbing atau Gunung Prau, namun Gunung Kembang punya pesona yang nggak kalah menawan.

Pemandangan yang tersaji di sepanjang jalur pendakian Gunung Kembang sangat beragam, mulai dari kebun warga, hutan pinus, hingga sabana terbuka yang langsung menghadap ke gagahnya Sindoro.
Karena letaknya yang masih cukup sepi dari keramaian, suasana di gunung ini terasa lebih tenang dan alami. Saat ini terdapat dua jalur pendakian utama, yaitu via Lengkong dan via Blembem.
Gunung yang Terkenal Bersih
Salah satu hal yang paling mengesankan dari Gunung Kembang adalah pengelolaan sampahnya yang sangat ketat. Sebelum mulai mendaki, setiap pendaki wajib melakukan pengecekan barang bawaan di basecamp.
Barang-barang seperti plastik, bungkus makanan, dan botol minum akan dihitung satu per satu dan jumlahnya harus sama ketika turun. Sistem ini bukan formalitas belaka, tapi benar-benar dijalankan dengan serius oleh pengelola dan para relawan lokal.

Aturan ini terbukti efektif, kini jalur pendakian Gunung Kembang dikenal sangat bersih, nyaris tanpa sampah berserakan. Pendaki pun ikut berperan aktif menjaga kebersihan dan saling mengingatkan satu sama lain.
Karena konsistensinya, Gunung Kembang khususnya via Blembem pernah mendapat pengakuan sebagai “Pelopor Pengelola Destinasi Wisata Gunung Berkelanjutan dengan Konsep Zero Waste Mountain” dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Review Perjalanan Pendakian Gunung Kembang via Lengkong
Perjalanan saya menuju Wonosobo dimulai dari Jakarta pada malam hari, menggunakan armada elf yang disediakan oleh penyelenggara open trip.
Namun, perjalanan kali ini sempat diwarnai sedikit drama saat saya berangkat menuju titik kumpul yang sudah disepakati. Tol dalam kota Jakarta malam itu macet parah, bahkan meski saya sudah berangkat dari PIK pukul 17.30 WIB setelah pulang kantor, tetap saja saya baru tiba di titik kumpul RS UKI Cawang sekitar pukul 21.30 WIB.
Bayangin bro, tiga jam terjebak di tol hanya untuk menempuh jarak yang biasanya kurang dari satu jam! Tapi ya begitulah, kadang perjalanan menuju gunung memang selalu dimulai dengan sedikit ujian kesabaran.
Setelah perjalanan panjang semalaman, sekitar pukul delapan pagi kami tiba di Basecamp Gunung Kembang via Lengkong. Sebelumnya, kendaraan kami sempat berhenti sejenak untuk menurunkan rombongan pendaki lain yang akan menuju Gunung Prau via Patak Banteng.
Udara pagi Wonosobo terasa sejuk dan lembap, membuat rasa lelah semalaman perjalanan perlahan tergantikan oleh semangat baru untuk segera mendaki.

Basecamp Lengkong sendiri cukup nyaman dan tertata rapi dan bersih. Di sini para pendaki wajib registrasi, membayar tiket masuk, serta mengikuti briefing singkat dari petugas basecamp.
Selain menjelaskan jalur pendakian, mereka juga mengingatkan soal aturan kebersihan yang ketat, setiap barang bawaan akan dicatat satu per satu, mulai dari bungkus makanan hingga botol minum.
Basecamp Gunung Kembang ke Pos 1 Gerbang Ndeles (5 Menit)
Setelah semua persiapan selesai, pendakian dimulai sekitar pukul 08.30 pagi. Kami memutuskan untuk menggunakan ojek gunung dari basecamp menuju Pos 1 demi memangkas waktu yang sangat berharga, biaya jasa ojek terdapat dikisaran Rp25.000 per orang (harga per Oktober 2025)

Jalur awal yang kami tempuh melewati kebun milik warga, dengan pemandangan Gunung Sindoro yang tampak jelas di depan mata. Semakin naik, jalur mulai masuk ke area hutan pinus yang teduh dan menenangkan.
Oh ya, yang menarik dari jasa ojek Gunung Kembang, rata-rata kendaraannya sangat proper banget loh.
Motor yang tersedia rata-rata motor besar seperti Thunder atau Megapro. Saya yang badannya bongsor merasa nyaman naik motor ini saat menerjang jalur tanjakan dan berbatu.
Pos 1 Gerbang Ndeles ke Pos 2 Pakis Suri (31 Menit)

Jalur menuju Pos 2 tergolong tidak terlalu sulit, trek-nya sudah tertata rapi dengan pijakan tanah yang disusun menyerupai anak tangga.
Vegetasi di sekitar masih cukup rapat, didominasi pepohonan dan semak rendah yang memberi keteduhan selama perjalanan.
Udara pagi saat itu terasa segar, dan suara langkah sepatu di tanah yang lembap jadi irama tersendiri di antara obrolan ringan para pendaki.
Pos 2 Pakis Suri ke Pos 3 Ngratan (34 Menit)
Jalur dari Pos 2 Pakis Suri menuju Pos 3 Ngratan secara umum masih mirip dengan sebelumnya, hanya saja mulai terasa sedikit lebih menanjak. Beberapa bagian jalur memberikan bonus berupa jalan datar yang cukup membantu untuk mengatur napas sebelum kembali menanjak.

Vegetasi di sepanjang jalur ini justru terasa lebih rapat. Pohon-pohon tinggi dan semak di kanan-kiri jalur menciptakan suasana teduh dan lembap.
Di antara jalur ini juga terdapat Pos Mata Air 1, namun saat itu kondisinya sedang kering, sehingga pendaki tidak bisa mengisi ulang persediaan air.
Pos 3 Ngratan ke Pos 4 Igir Bima (23 Menit)
Jarak dari Pos Ngratan menuju Pos Igir Bima memang hanya sekitar 300 meter, tapi jangan anggap remeh, jalurnya menanjak konstan sejak awal. Trek tanah bercampur akar pohon membuat langkah harus lebih hati-hati, terutama ketika beban tas mulai terasa di punggung.

Kami menempuhnya dalam waktu sekitar 23 menit sebelum akhirnya tiba di Pos 4 Igir Bima, sebuah area kecil yang cukup untuk beristirahat sejenak sambil menikmati hembusan angin dari sela pepohonan.
Pos 4 Igir Bima ke Pos 5 Sri Kumbang (48 Menit)
Jalur mulai menunjukkan perubahan karakter. Di bagian ini, vegetasi tinggi mulai berkurang dan berganti dengan semak belukar yang lebih terbuka. Area ini menjadi batas antara hutan rapat di bawah dengan punggungan menuju puncak Gunung Kembang.

Trek-nya terasa semakin menanjak konstan yang menandakan bahwa pendaki sudah memasuki area punggungan utama. Angin mulai terasa lebih kencang, dan di beberapa titik pandangan mulai terbuka, selain itu Gunung Sindoro tampak semakin dekat dan megah di hadapan.
Meski napas mulai tersengal, semangat justru semakin besar karena puncak sudah tidak jauh lagi.
Pos 5 Sri Kumbang – Puncak Gunung Kembang (15 Menit)
Perjalanan ke Puncak Gunung Kembang dari Pos 5 hanya memakan waktu sekitar 14 menit, namun suasananya benar-benar berbeda. Vegetasi di jalur ini didominasi sabana terbuka yang tidak terlalu luas, tetapi memanjakan mata dengan pemandangan spektakuler.
Dari sini, Sindoro tampak sangat dekat dan menjulang gagah di hadapan, seolah bisa digapai hanya dengan beberapa langkah lagi.
Setiap langkah saya mulai terasa ringan karena rasa lelah perlahan tergantikan oleh kekaguman. Angin bertiup lebih kencang di area terbuka ini, membawa aroma rumput gunung yang khas.

Di sisi lain puncak, terbentang sebuah kaldera yang dikenal dengan nama Kawah Bimo Pengkok yaitu sebuah cekungan besar yang akan terisi air ketika musim hujan tiba.
Puncak Gunung Kembang memang tidak terlalu luas, namun pesonanya sederhana dan menenangkan. Dari sini, hamparan awan dan siluet Gunung Sumbing di kejauhan menjadi pemandangan penutup yang sempurna setelah perjalanan panjang dari Desa Lengkong.
Nah itu tadi informasi perjalanan ke Gunung Kembang yang saya lakukan beberapa waktu yang lalu, jadi total waktu tempuh dari basecamp ke puncak sekitar 2,6 jam. Selepas istirahat dan menikmati suasana diatas kaldera Bimo Pengkok, kami turun ke basecamp dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.
Open Trip Gunung Kembang – Bismo
by Falisha Journey
Perjalanan kami selama pendakian difasilitasi oleh Falisha Journey dan dipandu oleh Mas Rohmat sebagai guide/tour leader.

Informasi Tambahan yang Mungkin Bermanfaat Soal Gunung Kembang via Lengkong
Gimana transportasi ke Gunung Kembang via Lengkong?
Selain menggunakan jasa open trip, kamu bisa menggunakan transportasi umum seperti bus menuju ke Terminal Mendolo, Wonosobo.
Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan ojek sekitar Rp40.000 – Rp50.000 per orang, atau sewa mobil dengan bak terbuka sekitar Rp200.000 untuk kapasitas 8 orang menuju ke Basecamp Gunung Kembang di Desa Lengkong.
Berapa lama mendaki Gunung Kembang via Lengkong?
Waktu tempuh dapat bervariasi, umumnya pendakian tektok ke Gunung Kembang via Lengkong membutuhkan waktu 2,5 – 3 jam dengan kondisi tidak membawa tas gunung serta menggunakan jasa ojek dari basecamp ke Pos 1.
Harga tiket masuk Gunung Kembang
Biaya registrasi Gunung Kembang Rp30.000 per orang dengan rincian, tiket perhutani Rp20.000 serta tiket fasilitas BC Rp10.000. Bagi yang membawa kendaraan akan dikenakan biaya parkir motor Rp10.000 atau mobil sebesar Rp25.000.
Untuk info lebih lanjut silahkan menghubungi via WhatsApp melalui nomor BC resmi di 0851-9126-6565.
Gunung Kembang apakah cocok untuk pemula?
Berhubung saya sudah merasakan sendiri bagaimana medan Gunung Kembang khususnya via Lengkong, maka bisa saya katakan bahwa jalur ini ramah untuk pemula.
Namun perlu dicatat, seramah-ramahnya untuk pemula, naik gunung tetap akan menguras tenaga dan kadang akan berhadapan dengan cuaca yang tidak bisa diprediksi, jadi persiapkan diri sebaik mungkin sebelum mendaki.





Garmin GPS MAP 79S Saya sempat cari GPS handheld yang tahan air dan sinyalnya stabil, dan akhirnya nemu Garmin GPSMAP 79S. Fitur floating dan baterainya memang cocok untuk outdoor & laut.
Buat yang lagi cari referensi lengkapnya, ini informasinya cukup jelas:
👉 https://www.alnindo.com
Semoga bermanfaat 👍