Kalian setuju gak sih kalau Yogyakarta itu salah satu kota yang ngangenin? Meskipun sudah beberapa kali datang ke sana, selalu ada saja yang bikin kangen. Entah itu tempatnya, suasananya, atau makanan khasnya yang selalu bikin kepikiran. Salah satunya tentu saja gudeg.
Kalau posisi kalian lagi di Jakarta dan sedang kangen makan gudeg, saya punya rekomendasi tempat yang bisa dicoba. Namanya Gudeg Jogja Bu Tinah, lokasinya berada di sekitar Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat.
Warung sederhana ini sudah berjualan sejak 1986 dan dikenal sebagai salah satu tempat makan gudeg legendaris di Jakarta. Beberapa tokoh terkenal juga pernah mampir ke sini, termasuk Anies Baswedan dan Erick Thohir.
Saya sendiri sudah beberapa kali berkunjung ke Yogyakarta, tapi urusan kangen dengan kota ini rasanya gak pernah selesai. Ada saja alasan untuk ingin kembali, termasuk urusan kulinernya.
Nah, beberapa waktu lalu saya mencoba mencari rasa gudeg yang bisa sedikit mengobati rasa kangen tersebut di Jakarta. Pilihan saya jatuh ke Gudeg Jogja Bu Tinah yang lokasinya dekat dengan Stasiun Gondangdia.

Saya naik KRL dan turun di Stasiun Gondangdia. Waktu itu saya keluar lewat Pintu B. Dari sana saya tinggal jalan sebentar masuk ke area gang kecil yang dipenuhi beberapa kios makanan.
Warung Gudeg Jogja Bu Tinah sendiri cukup kecil dan sederhana. Jangan membayangkan tempat makan dengan ruangan luas atau interior yang Instagramable. Bentuknya lebih mirip warung makan sederhana di pinggir jalan.
Warung Kecil yang Sudah Puluhan Tahun Jualan Gudeg

Meskipun tempatnya sederhana, warung ini punya cerita yang cukup panjang.
Gudeg Jogja Bu Tinah berdiri sejak 1986. Resepnya merupakan resep keluarga yang sudah diwariskan turun-temurun. Bu Tinah sendiri sebelumnya sudah membantu keluarganya berjualan gudeg di Jakarta.
Ada satu hal menarik dari proses memasaknya. Gudeg Bu Tinah dimasak sampai tiga hari untuk mendapatkan warna dan rasa yang diinginkan.
Makanya saya semakin penasaran ketika akhirnya duduk dan memesan makanan di sini.
Apalagi nama warung ini juga sudah cukup dikenal. Beberapa pemberitaan menyebutkan sejumlah tokoh seperti Anies Baswedan, Erick Thohir, Megawati Soekarnoputri, hingga Soeharto pernah menjadi pelanggan.
Jadi, ekspektasi saya waktu datang memang lumayan tinggi.
Pesan Gudeg Lengkap dengan Krecek dan Tempe Bacem
Saya akhirnya memesan nasi gudeg yang isinya berupa gudeg, krecek, dan tahu. Supaya lebih lengkap, saya tambahkan telur rebus dan tempe bacem.

Begitu makanan datang, tampilannya memang sederhana. Sepiring nasi dengan lauk yang sudah familiar bagi siapa pun yang pernah makan gudeg.
Tapi urusan rasa, ini yang menarik.
Suapan pertama langsung membuat saya teringat dengan Yogyakarta. Rasa gudegnya punya karakter manis gurih yang cukup kuat, tetapi tingkat manisnya menurut saya masih pas.
Kalau dibandingkan dengan gudeg yang pernah saya makan langsung di Jogja, versi Bu Tinah terasa sedikit lebih ringan manisnya.
Dan buat lidah saya, justru pas. Mungkin karena sudah terlalu lama tinggal di Jakarta, jadi selera saya juga ikut menyesuaikan.
Kreceknya Gak Bikin Eneg
Saya termasuk orang yang cukup pilih-pilih kalau urusan krecek. Kalau terlalu berminyak atau rasanya terlalu berat, biasanya baru beberapa suapan sudah terasa eneg.
Di Gudeg Bu Tinah, kreceknya masih nyaman dimakan. Teksturnya enak dan rasa gurih serta pedasnya cocok ketika dicampur dengan gudeg yang manis.
Perpaduan keduanya menurut saya memang jadi bagian paling menarik dari sepiring nasi gudeg ini. Ditambah telur rebus dan tempe bacem, rasanya semakin lengkap.
Buat saya, makanan seperti ini memang paling enak dimakan dengan nasi yang masih hangat. Ambil sedikit nasi, gudeg, krecek, lalu tambahkan lauk lainnya. Sederhana, tapi susah berhenti kalau sudah cocok dengan rasanya.
Harga Makanan di Gudeg Jogja Bu Tinah

Untuk seporsi gudeg lengkap dengan tambahan lauk yang saya pesan, waktu itu saya membayar Rp25.000. Saya kemudian memesan es teh tawar seharga Rp3.000. Jadi total yang saya keluarkan hanya Rp28.000.
Harga tersebut tentu bisa berubah sewaktu-waktu. Tapi menurut saya harganya masih cukup bersahabat untuk ukuran makanan di kawasan Jakarta Pusat.
Apalagi lokasinya dekat dengan stasiun. Buat yang sedang jalan-jalan atau sedang transit di sekitar Gondangdia, tempat ini cukup mudah dimasukkan ke agenda kuliner.
Setelah mencicipinya sendiri, saya bisa mengerti kenapa Gudeg Jogja Bu Tinah masih bertahan dan punya pelanggan sampai sekarang.
Tempatnya memang sederhana. Ukurannya juga kecil. Tapi rasa gudegnya punya karakter yang bisa mengingatkan saya pada makanan khas Yogyakarta.
Buat kalian yang sedang berada di Jakarta dan tiba-tiba kangen Jogja, Gudeg Jogja Bu Tinah bisa menjadi salah satu pilihan untuk dicoba.
Apalagi aksesnya gampang karena lokasinya dekat Stasiun Gondangdia. Tinggal naik KRL, turun di stasiun, jalan sebentar, lalu bisa menikmati sepiring gudeg dengan krecek, tahu, telur, dan tempe bacem.
Saya datang ke sini awalnya cuma ingin melepas kangen dengan makanan khas Yogyakarta. Ternyata setelah selesai makan, rasa kangennya malah makin menjadi.




