Gunung Bukit Raya merupakan salah satu gunung yang masuk dalam daftar 7 Summit Indonesia, tapi namanya jarang terdengar di obrolan para pendaki. Lokasinya jauh, aksesnya tidak sederhana, dan informasinya tidak sebanyak gunung-gunung populer di Pulau Jawa. Tapi, justru itu yang membuat saya tertarik untuk datang.
Dengan ketinggian 2.278 mdpl dan status sebagai puncak tertinggi di Kalimantan, Bukit Raya menawarkan pengalaman yang berbeda. Pendakian ini bukan hanya tentang mencapai atap Kalimantan, melainkan perjalanan panjang menembus hutan hujan tropis yang masih liar, sunyi, dan berjalan dengan ritmenya sendiri.
Di tulisan ini saya akan membagikan pengalaman pendakian ke Gunung Bukit Raya secara menyeluruh. Mulai dari persiapan, perjalanan menuju lokasi, hingga gambaran biaya yang perlu disiapkan. Luangkan waktu sejenak, baca perlahan, dan ikuti cerita perjalanan saya menyusuri jantung Kalimantan.
Jujur saja, bagian ini sebenarnya tidak sepenuhnya layak dijadikan contoh. Persiapan pendakian ke gunung yang saya lakukan menuju Gunung Bukit Raya terbilang cukup mepet dan jauh dari kata ideal. Kalau dipikir sekarang, semuanya bisa berjalan lebih karena momentum daripada perencanaan yang matang.
Sekitar tujuh hari sebelum keberangkatan, saya mendapat kabar libur kerja dengan durasi hampir sepekan. Buat saya, libur lebih dari tiga hari tanpa ke mana-mana rasanya sayang sekali. Ada dorongan untuk memanfaatkan waktu, apalagi kalau masih ada kesempatan untuk naik gunung.
Dari situ saya mulai menghubungi teman yang biasa membuka trip pendakian. Kebetulan, ia sedang menyiapkan perjalanan ke Gunung Bukit Raya, dan tanggalnya pas dengan jadwal libur saya. Sayangnya, saat itu kuota peserta sudah penuh. Saya sempat berpikir, mungkin Bukit Raya memang belum waktunya.
Tapi cerita berubah tiga hari menjelang keberangkatan. Saya dihubungi kembali dan ditanya apakah masih bersedia ikut. Beberapa peserta dinyatakan positif Covid-19 setelah tes PCR, sehingga ada slot kosong. Di titik itu saya harus mengambil keputusan cepat. Waktu persiapan sangat terbatas, tapi kesempatan ke Bukit Raya juga tidak datang setiap saat.
Biasanya, saya selalu menyempatkan latihan fisik sebelum mendaki. Minimal jogging ringan selama seminggu untuk menjaga stamina. Kali ini tidak ada ruang untuk itu. Waktu tersisa kurang dari tiga hari, sementara pendakian Gunung Bukit Raya dikenal cukup berat dan memakan waktu berhari-hari. Idealnya, persiapan fisik dilakukan jauh-jauh hari, bahkan sebulan sebelumnya.
Di luar urusan fisik, masih ada banyak hal teknis yang harus dibereskan. Mulai dari memesan tiket pesawat ke Pontianak, sampai mengatur jadwal tes PCR supaya hasilnya keluar tepat waktu sebelum hari keberangkatan. Semua berjalan serba cepat dan jujur saja, cukup bikin deg-degan.
Daftar Peralatan Pribadi yang Dibawa ke Bukit Raya
Karena pendakian ini saya lakukan dengan ikut open trip, peralatan pribadi yang dibawa tidak sebanyak saat mendaki secara mandiri. Beberapa perlengkapan logistik dan kebutuhan kelompok sudah disiapkan oleh tim, jadi saya bisa lebih fokus ke barang-barang personal yang memang wajib ada selama perjalanan.
Untuk pendakian selama sekitar 9–10 hari menuju gunung tertinggi di Kalimantan ini, berikut daftar peralatan pribadi yang saya bawa:
- Pakaian pribadi (pakaian perjalanan dan pakaian mendaki)
- Sleeping bag
- Jaket bulang & jaket windbreaker
- Sandal gunung
- Sepatu gunung
- Tas Kelty Redwing 50L
- Tas lipat Montbell 20L
- Botol minum Nalgene 1L
- Trekking pole
- Jas hujan plastik
- Kaos kaki 4 pasang
- Sarung tangan & kupluk
- Sajadah lipat
- Handuk travel
- Buff/Masker
- Headlamp
- Celana legging 2 pasang
- Topi
- Kamera, GoPro beserta baterai dan aksesoris
- Cemilan pribadi

Fasilitas yang Disediakan Trip Operator
Selama pendakian ke Gunung Bukit Raya, beberapa fasilitas utama sudah disediakan langsung oleh pihak trip operator. Salah satu yang cukup membantu yakni peralatan tim dibawa oleh porter yang memang termasuk ke dalam paket perjalanan.
Peserta jadi tidak perlu memikul perlengkapan bersama di dalam tas gunung masing-masing, sehingga beban bisa lebih fokus ke barang pribadi. Berikut fasilitas yang saya dapatkan selama mengikuti trip pendakian Bukit Raya:
- Tenda
- Matras tiup
- Lampu tenda
- Flysheet
- Peralatan makan & minum
- Peralatan masak
- Makan selama pendakian
- First aid kit
- Porter tim
- Dokumentasi
- Transport dari hotel/bandara menuju Desa Rantau Malam.
Dengan fasilitas seperti ini, pendakian terasa sedikit lebih ringan, terutama mengingat jalur Bukit Raya yang panjang dan memakan waktu berhari-hari.
Kehadiran porter dan logistik tim cukup membantu menjaga ritme perjalanan, apalagi bagi peserta yang baru pertama kali masuk ke rimba Kalimantan.
Persyaratan Pendakian Gunung Bukit Raya
Pendakian yang kami lakukan saat itu melalui jalur Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Wilayah 1 Nanga Pinoh, Kalimantan Barat. Untuk urusan administratif, sebagian besar memang sudah diurus oleh pihak trip operator. Meski begitu, saya tetap ingin membagikan informasinya di sini sebagai gambaran buat teman-teman yang berniat mendaki Bukit Raya.
Perlu dicatat, persyaratan pendakian bisa saja berubah seiring waktu, tergantung kebijakan pengelola taman nasional dan kondisi tertentu. Jadi, anggap daftar di bawah ini sebagai referensi awal, bukan patokan mutlak.
Berikut persyaratan administratif pendakian Gunung Bukit Raya yang berlaku saat saya berangkat:
- Pendaftaran melalui aplikasi Baka Raya in Hand
- Mebayar SIMAKSI di aplikasi Baka Raya in Hand
- Fotokopi KTP
- Hasil PCR negatif (saat itu masih suasana pandemi)
- Mengisi daftar rombongan pendakian di Balai TN Bukit Baka Bukit Raya
- Mengisi surat pernyataan tanda tangan diatas materai
- Mengisi buku kunjungan (perwakilan)

Sebelum berangkat, saya sangat menyarankan untuk tetap melakukan pengecekan ulang kepada pihak pengelola taman nasional atau trip operator terkait. Dengan begitu, persiapan bisa lebih matang dan tidak ada kendala administratif di lapangan.
Rincian Waktu Perjalanan Pendakian
Perjalanan pendakian ke Gunung Bukit Raya bukan tipe perjalanan singkat yang bisa selesai dalam beberapa hari.
Total waktu yang saya habiskan, dihitung sejak berangkat hingga kembali pulang ke Kota Bogor, mencapai 10 hari penuh. Berikut saya ceritakan alurnya hari demi hari, supaya lebih kebayang bagaimana panjang dan kompleksnya perjalanan ini.
Day 1 – Dari Kota Bogor ke Gerbang Kalimantan
Perjalanan dimulai dari Kota Bogor menuju Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, lalu dilanjutkan dengan penerbangan ke Pontianak.
Setibanya di Pontianak, peserta pendakian dijemput satu per satu sebelum melanjutkan perjalanan darat menuju Nanga Pinoh.

Kami menempuh perjalanan darat sekitar 8 jam menggunakan mobil minibus yang sudah disiapkan oleh trip operator menuju ke Nanga Pinoh. Perjalanan panjang ini menjadi pemanasan awal sebelum benar-benar masuk ke rimba Kalimantan.
Day 2 – Menyusuri Sungai Kalimantan Menuju Rantau Malam
Hari kedua menjadi salah satu perjalanan paling berkesan selama di Kalimantan. Kami melanjutkan perjalanan menggunakan speedboat menuju Desa Rantau Malam.
Jalur yang dilalui bukan lautan biru, melainkan sungai-sungai besar Kalimantan yang lebarnya sulit dibayangkan jika belum melihat langsung.
Sekitar empat jam pertama ditempuh dengan speedboat kecil menuju Serawai. Kami tiba sekitar pukul 12 siang dan memanfaatkan waktu untuk istirahat serta makan siang sambil menunggu pergantian kapal ke klotok.
Di sinilah drama kecil terjadi. Pengemudi klotok awalnya enggan berangkat karena kondisi air yang surut dan menyarankan kami menginap di Serawai. Setelah negosiasi panjang dan tambahan biaya, akhirnya perjalanan tetap dilanjutkan sore itu.
Perjalanan dari Serawai ke Desa Rantau Malam kembali memakan waktu sekitar empat jam. Kami tiba di desa sekitar pukul tujuh malam, disambut suasana hening dan sungai dengan air yang sangat jernih.
Malam itu ditutup dengan ritual adat yang wajib dilakukan sebelum memulai pendakian keesokan harinya.
Day 3 – Langkah Pertama di Jalur Bukit Raya yang Menyiksa
Petualangan sesungguhnya dimulai di hari ketiga. Jalur pendakian resmi dimulai dari Desa Rantau Malam menuju Pos 4 Sungai Mangan. Sejak langkah pertama, tantangan langsung terasa.
Cuaca panas dan terik matahari benar-benar menguras tenaga. Panasnya jauh berbeda dengan yang biasa saya rasakan saat berkegiatan outdoor di Pulau Jawa. Hal ini tidak lepas dari letak geografis kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya yang berada di wilayah garis ekuator/garis khatulistiwa, dengan titik nol derajatnya berada di Kota Pontianak.
Pos 4 Sungai Mangan menjadi lokasi camp pertama. Areanya cukup luas dan relatif datar, mampu menampung sekitar 8–10 tenda kecil. Di dekat pos juga terdapat aliran sungai kecil yang sangat membantu untuk kebutuhan memasak dan air minum. Waktu tempuh dari Rantau Malam ke Pos 4 berkisar 9–10 jam, tergantung ritme dan kondisi fisik masing-masing pendaki.
Day 4, Pos 4 Sungai Mangan Menuju Pos Bayangan 7
Petualangan hari keempat di jalur pendakian Gunung Bukit Raya semakin jauh menuju hutan belantara.
Elevasi yang dicapai dari Desa Rantau Malam hingga menuju ke Pos Bayangan 7 cenderung naik turun. Medan yang dilalui berupa bukit-bukit yang sangat panjang, menjadikan perjalanan ini terasa berat.
Pada rute ini pacet sudah mulai banyak bermunculan. Gunung Bukit Raya terkenal dengan sebutan kerajaan pacet, kondisi hutan yang rapat dan lembab merupakan tempat yang ideal bagi habitat pacet.
Saya tidak begitu mengkhawatirkan pacet, karena kami sudah dibekali autan spray yang ternyata sangat ampuh untuk mengusir hewan penghisap darah tersebut ketika menempel pada sepatu.
Saat itu, saya lebih fokus untuk menjaga kondisi fisik dan mental karena trekking hari kedua ini lebih berat dibanding hari sebelumnya.

Sekitar pukul 7 malam saya tiba di lokasi camp Pos Bayangan 7. Waktu tempuh sedikit lebih lama dari teman-teman yang lain karena drama cidera kaki dimulai disini (sampai dengan perjalanan pulang nanti).
Kaki saya sedikit terpincang-pincang, yang saya rasakan otot betis sampai lutut mulai terasa sakit.
Day 5, Pos Bayangan 7 Menuju Puncak Kakam Bukit Raya
Puncak Gunung Bukit Raya memiliki ketinggian 2278 MDPL, diantara ke tujuh gunung seven summits of Indonesia, gunung ini memiliki ketinggian yang paling rendah. Tapi, tolak ukur berat atau tidaknya sebuah pendakian tidak hanya dilihat dari ketinggiannya saja. Contohnya kisah pendakian Bukit Raya yang saya tulis ini, tingkat kesulitannya diluar dugaan saya (level berat).
Pada mulanya saya ragu bisa ikut summit ke puncak, karena kaki yang masih terasa sakit. Saya coba menguatkan mental dan mengingat-ingat kembali perjuangan yang telah dilalui untuk bisa sampai ke titik ini, pengorbanan waktu, biaya dan tenaga.
Saya teguhkan hati untuk tetap melangkah maju menuju puncak dan tetap mengutamakan prinsip keselamatan apabila terjadi sesuatu diperjalanan.

Summit ke sebuah gunung memang selalu menjadi fase yang paling berat dalam pendakian. Kami yang berangkat pagi-pagi sekali, nyatanya tiba kembali ke lokasi camp dalam kondisi sudah malam juga.
Rombongan pertama tiba sekitar pukul 7-8 malam, saya yang minta ditemani karena kaki makin terseok-seok untuk turun, tiba sekitar jam 11 malam.
Bang Rendra, salah satu anggota rombongan mengalami keluhan yang sama dengan saya. Beliau yang ditemani dua orang porter lokal bahkan tiba di lokasi camp jam 4 subuh. Momen menunggu rombongan Bang Rendra tiba di lokasi camp, membuat saya dan teman-teman yang lain khawatir sepanjang malam.
Day 6, Pos Bayangan 7 Turun ke Pos 4
Pos Bayangan 7 menjadi lokasi kami menginap selama 2 malam, mengapa kami tidak mendirikan tenda di Pos 7?, karena pada saat itu terdapat rombongan lain yang sudah lebih dulu melakukan pendakian dan mendirikan tenda disana.
Kondisi tersebut sudah sesuai dengan informasi dari Balai TN Bukit Baka Bukit Raya dan porter lokal.
Pendakian ke gunung tertinggi di Kalimantan tersebut dibatasi oleh pihak taman nasional untuk alasan yang sangat rasional, yaitu mencegah kelebihan jumlah pendaki karena keterbatasan lahan yang ideal untuk mendirikan tenda disetiap posnya.
Day 7, Pos 4 Sungai Mangan Turun ke Desa Rantau Malam
Sebelum saya bercerita kita kembali dulu menuju kisah ke hari sebelumnya. Jadi, pada hari dimana kami selesai melakukan summit, ada perubahan rencana karena kondisi cidera yang saya dan Bang Rendra alami.
Jika mengacu ke itinerary, seharusnya dari pos bayangan 7, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju ke Desa Rantau Malam.
Meskipun saya dan Bang Rendra menyanggupi untuk tetap langsung turun ke Desa Rantau Malam, namun hati kecil saya merasakan kekhawatiran yang cukup beralasan.
Pertama, Bang Rendra baru saja tiba jam 4 subuh dan sudah dipastikan kurang tidur. Kedua, jalur turun Gunung Bukit Raya akan sama dengan jalur ketika naik karena konturnya yang berbukit-bukit.
Pada akhirnya muncul kesepakatan untuk memecah rombongan menjadi 2 tim. Tim pertama dari Pos Bayangan 7 langsung turun ke Desa Rantau Malam terlebih dahulu.
Mereka yang turun lebih dulu juga memiliki alasan yang kuat untuk tetap melanjutkan perjalanan. Misalnya karena jadwal yang sudah mereka rencanakan agar tidak mengorbankan waktu kerja, serta perihal tiket pesawat yang sudah dipesan yang akan terlewat apabila menambah 1 hari lagi di Bukit Raya.
Demi menghindari kejadian yang lebih buruk, saya, Bang Rendra dan beberapa orang anggota sisanya, menjadi rombongan terakhir yang turun ke Desa Rantau Malam. Kami menginap kembali di pos 4 sebelum turun ke Desa Rantau Malam esok pagi.
Day 8, Desa Rantau Malam Menuju Nangah Pinoh
Lega rasanya ketika kami beranjak pulang menuju ke Nangah Pinoh. Bagi saya ini merupakan perjalanan pendakian terlama sejauh pengalaman saya mendaki ke gunung.
Perjalanan yang bikin rindu akan rumah, banyak para pendaki yang sering menyebutkan kalimat bijak “perjalanan terbaik dari sebuah pendakian adalah kembali pulang dengan selamat”, kalimat itu benar-benar tergambarkan pada pendakian di Bukit Raya saat itu.

Pada malam sebelum kami keluar dari Desa Rantau Malam. Seluruh rombongan pendaki yang tersisa melakukan ritual yang dipimpin tetua adat.
Buat sobat yang mau mendaki ke Gunung Bukit Raya harus memperhitungkan biaya ritual adat dalam budget list kalian.
Bayar? Ia betul sekali, selain membayar biaya ritual, nanti sobat akan dibebankan biaya pembelian ayam putih serta gelang yang harus dipakai selama pendakian.
Day 9, Nangah Pinoh Menuju Kota Pontianak
Kami tiba di Nangah Pinoh jelang magrib, selanjutnya kami melakukan perjalanan darat menuju Kota Pontianak dan tiba dini hari jelang subuh.
Saya menyewa hotel satu malam untuk beristirahat sebelum penerbangan pulang esok hari ke Jakarta.
Day 10, Pontianak Menuju ke Jakarta
Pendakian kali ini banyak memberikan pelajaran buat saya, perjalanan yang sepertinya akan sulit untuk diulang kembali. Perjalanan yang memberikan banyak kenangan dan kesan yang luar biasa.
Pendakian yang menambah banyak teman-teman baru dari berbagai latar belakang yang luar biasa pula.
Saya sangat lega dan bangga bisa menyelesaikan misi pendakian ke puncak Gunung Bukit Raya di Kalimantan dan bisa kembali pulang dengan selamat.
Biaya Pendakian Gunung Bukit Raya Kalimantan
Total biaya yang saya keluarkan sebesar Rp.8.691.000. Biaya tersebut termasuk biaya open trip menggunakan jasa dari Ogi’e Travel Adventure.
Saya tidak mencantumkan biaya porter, biaya ritual adat, biaya transportasi menuju dan setelah pendakian, serta biaya-biaya lain yang sudah ditanggung dalam harga paket travel.
Berikut daftar biaya yang saya keluarkan untuk pendakian Gunung Bukit Raya Kalimantan:
| Nama Biaya | Jumlah |
| Biaya jasa open trip pendakian Gunung Bukit Raya | Rp5.000.000 |
| Tiket Pesawat Jakarta – Pontianak | Rp1.100.000 |
| Tiket Pesawat Pontianak – Jakarta | Rp870.000 |
| Biaya PCR (syarat Taman Nasional Bukit Raya) | Rp250.000 |
| Biaya swab antigen untuk pesawat menuju Jakarta | Rp75.000 |
| Konsumsi pribadi | Rp400.000 |
| Sewa hotel 1 malam di Pontianak | Rp840.000 |
| Gocar dari hotel ke bandara Pontianak | Rp36.000 |
| Tiket bus damri Soekarno Hatta – Botani Square Bogor | Rp120.000 |
| GRAND TOTAL | Rp.8.691.000 |
Tips Pendakian ke Gunung Bukit Raya Kalimantan
Berikut tips melakukan pendakian ke Gunung Bukit Raya berdasarkan pengalaman yang sudah saya lalui, check it out!
- Persiapkan fisik minimal sebulan sebelum pendakian ke Gunung Bukit Raya
- Pendakian menggunakan jasa open trip atau mandiri merupakan pilihan masing-masing, cari opsi terbaik sesuai kondisi kamu
- Gunakan sunscreen/sun block, topi dan kacamata hitam (if possible) untuk melindungi kamu dari sengatan sinar matahari
- Buat jadwal dengan melebihkan hari diluar itinerary, untuk jaga-jaga apabila terjadi sesuatu
- Budget juga perlu dilebihkan untuk jaga-jaga
- Tiket pesawat pulang sebaiknya dipesan setelah pendakian selesai, atau jadwal pesawat diberi jeda H+1 setelah pendakian
- Trekking pole sangat membantu untuk trek panjang seperti Gunung Bukit Raya
- Bawa tumbler atau botol minum pribadi untuk minum selama trekking ke Gunung Bukit Raya.
Demikian kisah perjalanan saya menapaki Gunung Bukit Raya di Kalimantan, semoga dalam tulisan panjang ini terdapat informasi yang bermanfaat buat sobat yang memiliki rencana perjalanan kesana.





Tes komen
I truly love your website.. Excellent colors & theme. Did you create this website yourself?
Please reply back as I’m trying to create my own site and would love to find out where you got this from or exactly what
the theme is called. Thank you!
Hey there! I’ve been following yor site for a loong time now annd finally got the bravery to go ahead and give you a shoyt out from Porter Tx!
Just wanted to merntion keep up the fantastic job!