Main ke JIPFest 2026, Jakarta International Photo Festival di TIM

Tibetan Country Doctor karya Jake Homovich di JIPFest 2026, Jakarta International Photo Festival
Tibetan Country Doctor karya Jake Homovich di JIPFest 2026, Jakarta International Photo Festival

Kalau biasanya saya datang ke Cikini buat ke Perpustakaan Taman Ismail Marzuki, kali ini agak sedikit berbeda. Saya mampir ke Jakarta International Photo Festival atau JIPFest 2026 yang digelar di Gedung Trisno Soemardjo, TIM, mumpung tiketnya lagi gratis saat itu, hehehe…

JIPFest 2026 berlangsung pada 11–20 September dengan mengangkat tema Resilience. Tahun ini JIPFest menghadirkan puluhan proyek fotografi, instalasi, dan karya multimedia dari berbagai negara.

Area pameran JIPFest 2026 yang saya datangi berada di beberapa ruang di lantai 2 dan 3 Gedung Trisno Soemardjo.

Dari satu ruangan ke ruangan lainnya, karya yang ditampilkan punya cerita berbeda. Ada fotografi dokumenter, instalasi, sampai karya yang menggabungkan foto dengan medium lainnya.

Awalnya saya kira bakal melihat deretan foto yang dipajang di dinding. Ternyata pengalaman melihatnya lebih beragam dari itu.

Tema besar Resilience juga terasa cukup luas. Tema ini membahas kemampuan manusia untuk bertahan, beradaptasi, memulihkan diri, membangun solidaritas, hingga menemukan cara untuk terus tumbuh ketika menghadapi perubahan.

Menariknya, setiap seniman punya cara masing-masing dalam menerjemahkan tema tersebut.

Melihat Hubungan Masyarakat dan Alam dari Kapuas Hulu

Salah satu karya yang saya temui membawa cerita dari Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Masuk ke area ini langsung bikin saya teringat saat pendakian ke Gunung Bukit Raya, ketika harus menembus lebatnya hutan di Kalimantan.

Karya yang saya explore ini bernama Akar Kehidupan yang menyoroti hubungan masyarakat dengan hutan, sungai, keanekaragaman hayati, serta pengetahuan dan budaya lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kapuas Hulu sendiri merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Hutan dan sungai di wilayah ini juga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidup pada ekosistem tersebut.

Ketika melihat foto-fotonya, saya jadi kepikiran bahwa alam bagi sebagian masyarakat memang punya hubungan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Hutan dan sungai bukan cuma pemandangan bagus untuk difoto. Di dalamnya ada kehidupan, sumber penghidupan, sekaligus pengetahuan yang terus diwariskan.

Ketika Makanan dan Gula Ikut Jadi Cerita

Karya berikutnya yang cukup menarik perhatian saya justru membahas sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu makanan.

Ada bagian pameran yang mengangkat persoalan pangan, mulai dari makanan yang kita konsumsi sampai pengaruh lingkungan kota terhadap kebiasaan makan.

Salah satu instalasi juga membahas gula dan diabetes.

Saya cukup suka bagian ini karena pembahasannya terasa dekat. Kita setiap hari makan, membeli makanan, melihat iklan makanan dan minuman, bahkan sering kali memilih makanan berdasarkan harga atau kemudahan.

Ternyata hal-hal sederhana seperti itu juga bisa menjadi bagian dari cerita tentang bagaimana manusia bertahan dan menjalani kehidupan di tengah lingkungan perkotaan.

Saya juga menemukan karya Dapur Inang dari Rosa Panggabean. Karya ini membawa saya ke cerita tentang makanan Batak, perempuan, resep keluarga, serta pengetahuan memasak yang diwariskan lintas generasi.

Dapur Inang oleh Rosa Panggabean
Dapur Inang oleh Rosa Panggabean

Cerita dari Berbagai Negara

Setelah berpindah ruangan, saya mulai menemukan karya dengan latar tempat yang semakin beragam.

Ada cerita dari Tibet, Maroko, India, Thailand, Australia, dan beberapa negara lainnya.

Saya tidak akan membahas semuanya satu per satu karena terlalu banyak, nanti tulisan ini malah berubah menjadi katalog pameran, hehehe… Lagi pula, menurut saya pengalaman datang ke JIPFest justru lebih menarik kalau kita memberi ruang untuk melihat karya secara langsung.

Misalnya salah satu yang cukup menarik perhatian saya adalah The Colony karya Liss Fenwick.

The Colony karya Liss Fenwick
The Colony karya Liss Fenwick

Dari deskripsinya, proyek ini dibuat di Larrakia Country, Australia Utara, dan mengeksplorasi hubungan antara sejarah, pengetahuan, serta warisan kolonial. Fenwick menggunakan aktivitas rayap yang mengubah buku-buku kolonial menjadi bagian dari karya.

Saya sempat melihat karya ini tanpa langsung memahami maksudnya. Setelah membaca penjelasan yang tersedia, barulah saya mulai mengerti kenapa karya tersebut ditempatkan dalam pameran bertema resilience.

Ada juga We Were Just Little Boys karya Tace Stevens yang membawa saya ke cerita tentang Kinchela Aboriginal Boys Training Home di Australia.

Tempat ini merupakan institusi yang dikelola pemerintah New South Wales pada 1924–1970 untuk menampung anak-anak Aboriginal yang dipisahkan secara paksa dari keluarga mereka.

Mereka menjadi bagian dari apa yang kemudian dikenal sebagai Stolen Generations, ketika anak-anak Aboriginal diambil dari keluarga dan komunitasnya sebagai bagian dari kebijakan asimilasi.

We Were Just Little Boys karya Tace Stevens yang menampilkan potret para penyintas Stolen Generation yang kini sudah memasuki usia lanjut
We Were Just Little Boys karya Tace Stevens yang menampilkan potret para penyintas Stolen Generation yang kini sudah memasuki usia lanjut.

Di Kinchela, anak-anak tersebut dididik dan dilatih untuk bekerja sebagai tenaga buruh. Kesaksian para penyintas juga mencatat pengalaman kekerasan, pelecehan, kehilangan hubungan dengan keluarga, serta larangan menggunakan bahasa dan mempertahankan budaya Aboriginal mereka.

JIPFest 2026 Bikin Saya Melihat Fotografi dari Sisi Berbeda

Setelah cukup lama berkeliling, saya jadi merasa JIPFest 2026 bukan tempat yang mengharuskan pengunjung paham fotografi terlebih dahulu.

Saya sendiri datang sebagai pengunjung biasa. Kadang melihat fotonya dulu, membaca deskripsinya, kemudian baru mencoba memahami cerita di balik karya tersebut.

Dan justru proses seperti itu yang menurut saya menarik.

Dari Kapuas Hulu saya melihat hubungan manusia dengan alam. Dari karya tentang pangan saya diajak melihat kembali sesuatu yang setiap hari masuk ke tubuh kita. Dari Dapur Inang, saya melihat makanan sebagai bagian dari identitas dan pengetahuan keluarga.

Sementara karya dari berbagai negara lainnya membawa cerita tentang trauma, perubahan, lingkungan, budaya, hingga usaha manusia untuk tetap bertahan.

The Fish Dies By Its Mouth karya Santiago Escobar-Jaramillo
The Fish Dies By Its Mouth karya Santiago Escobar-Jaramillo

Buat saya, datang ke JIPFest 2026 jadi pengalaman yang cukup menarik. Apalagi kalau selama ini saya lebih sering melihat fotografi sebagai sesuatu yang enak dilihat, di sini saya jadi diingatkan bahwa sebuah foto juga bisa membawa cerita yang panjang.

Also Read

Bagikan:

Traveler Blogger and Search Engine Optimization Specialist who finds joy in exploring mountains, embarking on solo adventures, and discovering culinary delights.
Tags

Tinggalkan komentar