Pendakian 2 Hari 1 Malam ke Gunung Ciremai via Sadarehe, Jalur yang Mengantar Kami ke Atap Jawa Barat

Cerita Pendakian Gunung Ciremai via Sadarehe
Cerita Pendakian Gunung Ciremai via Sadarehe

Rencana awal pendakian kala itu sebenarnya menuju ke Gunung Ciremai via Apuy. Saya bersama tiga kawan yang lain sudah mendaftar open trip dan bersiap untuk perjalanan menuju gunung yang dijuluki atap Jawa Barat tersebut.

Namun dua hari sebelum keberangkatan, pihak open trip mengabarkan bahwa kuota peserta jalur Apuy tidak memenuhi syarat jumlah minimal, yakni sebanyak 13 orang. Sebagai gantinya, kami ditawari untuk berpindah ke Jalur Trisakti Sadarehe.

Meski sempat kecewa karena rencana berubah mendadak, kami akhirnya menerima tawaran tersebut. Tidak ada satu pun dari kami yang pernah mendaki Gunung Ciremai via Sadarehe. Namun, keputusan itu justru membawa saya, John, Tyo dan Elia pada pengalaman pendakian yang berkesan.

Pendakian kali ini terasa lebih spesial karena akan menjadi pengalaman pertama bagi John dan Tyo menapaki gunung dengan ketinggian di atas 3.000 mdpl. Sebelumnya kami memang pernah mendaki bersama ke Gunung Prau via Jalur Baru Patak Banteng, tetapi tingginya masih sekitar 2.590 mdpl.

Kenangan Pendakian di Prau
Kenangan Pendakian di Prau

Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, tantangannya tentu akan berbeda. Jalur yang lebih panjang, perubahan suhu yang lebih ekstrem, serta ketahanan fisik yang lebih besar menjadi pengalaman baru yang akan dihadapi.

Jalur Ciremai Trisakti Sadarehe berada di Desa Payung, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka. Jalur ini tergolong relatif baru dibandingkan jalur-jalur populer seperti Apuy dan Palutungan. Karena itulah, kami belum memiliki banyak gambaran mengenai kondisi trek yang akan dilalui.

Meski begitu, rasa penasaran justru lebih besar dibandingkan rasa khawatir. Bagi John dan Tyo, ini adalah kesempatan untuk menorehkan pencapaian baru.

Informasi Singkat Jalur Gunung Ciremai via Sadarehe

Sebelum berangkat, saya sempat mencari beberapa informasi mengenai Jalur Trisakti Sadarehe. Maklum saja, jalur ini belum sepopuler Apuy atau Palutungan sehingga referensinya masih cukup terbatas.

Meski begitu, ada beberapa informasi dasar yang berhasil saya kumpulkan sebelum pendakian.

Ketinggian
3.078 mdpl
Panjang Jalur
±11 km
Jumlah Pos
8 Pos
Estimasi ke Puncak
7–10 Jam
Area Camp
Pos 6 & Pos 8
Kesulitan
Menengah–Berat


Dari informasi tersebut, saya mulai menyadari bahwa pendakian kali ini kemungkinan tidak akan semudah seperti pendakian sebelumnya di Gunung Prau. 

Karena alasan tersebut, saya lebih menyarankan untuk mengikuti open trip atau menggunakan kendaraan pribadi bersama rombongan. 

Selain lebih praktis, waktu perjalanan juga menjadi lebih efisien karena kendaraan bisa langsung menuju area basecamp tanpa perlu berganti transportasi di tengah perjalanan.

Registrasi dan Persiapan Pendakian

Setelah menempuh perjalanan sekitar enam jam dari Cawang, kami akhirnya tiba di Basecamp Gunung Ciremai via Trisakti Sadarehe sekitar pukul 04.00 WIB. Meski masih dini hari, suasana di basecamp ternyata cukup ramai. Beberapa pendaki terlihat masih terjaga, sementara yang lain memanfaatkan waktu untuk beristirahat sebelum memulai pendakian.

Karena jadwal pendakian baru dimulai pukul 09.00 WIB, kami memiliki cukup banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Ada yang memilih tidur sejenak, mandi, sarapan, hingga melakukan repacking untuk mengurangi barang bawaan yang dirasa tidak terlalu diperlukan di gunung.

Sebelum pendakian dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu menjalani pemeriksaan kesehatan dan registrasi ulang di pos pendakian. Setelah semua proses selesai, rombongan bersiap menuju titik awal pendakian.

Naik Truk Menuju Titik Awal Pendakian
Naik Truk Menuju Titik Awal Pendakian

Sekitar pukul 09.00 WIB, kami mulai bergerak menggunakan truk menuju pintu rimba, titik awal trekking Jalur Trisakti Sadarehe. Awalnya saya mengira perjalanan ini hanya berlangsung beberapa menit. Ternyata truk harus menempuh jalan berbatu dan tanjakan yang cukup curam selama kurang lebih 45 hingga 60 menit.

Sepanjang perjalanan, kami dibuat terkejut dengan kondisi jalannya. Truk beberapa kali berguncang cukup keras saat melewati bebatuan dan tanjakan terjal. Bahkan sebelum mulai berjalan kaki, tenaga rasanya sudah sedikit terkuras hanya karena harus berpegangan agar tidak terpental dari bak belakang truk.

Gambaran Jalur Pendakian via Trisakti Sadarehe

Sebelum pendakian dimulai, pihak open trip menginformasikan bahwa lokasi camp kami berada di Pos 6 Sumber Hirup. Jujur saja, saat itu saya sedikit kecewa. Dari berbagai foto yang sempat saya lihat, Pos 8 memiliki area yang lebih terbuka dengan pemandangan yang menarik untuk menikmati langit malam.

Namun setelah menjalani pendakian sendiri, saya mulai memahami alasan di balik keputusan tersebut. Jalur Trisakti Sadarehe ternyata tidak bisa dianggap remeh. Meski secara teknis tidak terlalu ekstrem, panjang trek dan akumulasi tanjakannya cukup menguras tenaga, terutama bagi pendaki yang baru pertama kali naik gunung 3.000 mdpl.

Pos 1 Lawang Gede jalur Gunung Ciremai via Sadarehe
Pos 1 Lawang Gede
Perjalanan menuju Pos 2 jalur Gunung Ciremai via Sadarehe
Perjalanan Menuju Pos 2
Makan siang di Pos 2 Tegal Jamuju Gunung Ciremai via Sadarehe
Makan Siang di Pos 2
Pos 3 Kayu Manis jalur Gunung Ciremai via Sadarehe
Pos 3 Kayu Manis
Pos 4 Pengorbanan Cinta Gunung Ciremai via Sadarehe
Pos 4 Pengorbanan Cinta
Pos 5 Buyut Ketug jalur Gunung Ciremai via Sadarehe
Pos 5 Buyut Ketug
Bersantai di Pos 6 Sumber Hirup Gunung Ciremai via Sadarehe
Pos 6 Sumber Hirup

Kami memulai trekking dari pintu rimba pada pukul 10.45 WIB dan baru tiba di Pos 6 Sumber Hirup sekitar pukul 17.08 WIB. Artinya, perjalanan menuju camp membutuhkan waktu sekitar 6 jam 23 menit dengan beberapa kali istirahat di setiap pos.

Pintu Rimba → Pos 1 Lawang Gede
49 menit
Pos 1 → Pos 2 Tegal Jamuju
1 jam 11 menit
Pos 2 → Pos 3 Kayu Manis
1 jam 19 menit
Pos 3 → Pos 4 Pengorbanan Cinta
31 menit
Pos 4 → Pos 5 Buyut Ketug
51 menit
Pos 5 → Pos 6 Sumber Hirup
18 menit

Sesampainya di area camp, rasa lelah perlahan terbayar. Kami segera berganti pakaian yang lebih kering dan nyaman sebelum menikmati donat hangat yang sudah disiapkan oleh tim open trip. Menu makan malam hari itu juga cukup istimewa untuk ukuran pendakian, yaitu ayam goreng dengan sambal ijo yang langsung habis dalam waktu singkat.

Malam di Pos 6 berlangsung santai. Tidak banyak aktivitas selain berbincang ringan dan bermain domino di dalam tenda. Suasana sederhana seperti ini justru menjadi salah satu momen yang paling saya ingat dari pendakian tersebut. Setelah seharian berjalan kaki, kami akhirnya tertidur pulas untuk mempersiapkan tenaga menghadapi summit attack keesokan harinya.

Summit Attack Menuju Puncak Sejati Gunung Ciremai

Alarm berbunyi pukul 03.18 WIB. Setelah mengenakan jaket dan menyiapkan perlengkapan seperlunya, kami mulai meninggalkan Pos 6 Sumber Hirup sekitar pukul 03.30 WIB untuk melakukan summit attack menuju Puncak Sejati Gunung Ciremai.

Suasana Pos 7 Tanjakan Cita-Cita Saat Dini Hari
Suasana Pos 7 Tanjakan Cita-Cita Saat Dini Hari

Perjalanan awal menuju Pos 7 Tanjakan Cita-Cita memakan waktu sekitar satu jam. Jalur masih didominasi tanjakan dengan vegetasi yang cukup rapat. Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 8 Kawah Burung dan tiba sekitar pukul 05.14 WIB.

Memasuki Pos 8, kondisi fisik mulai benar-benar diuji. Jalur semakin terbuka dengan trek berbatu dan tanjakan yang terasa lebih menguras tenaga dibandingkan pos-pos sebelumnya. Di titik ini, Elia memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke puncak. Ia memilih beristirahat di Pos 8 ditemani oleh sweeper dari pihak open trip.

Sementara itu, saya, John, dan Tyo tetap melanjutkan perjalanan. Meski kelelahan mulai terasa, semangat untuk mencapai puncak tidak pernah surut. Apalagi bagi John dan Tyo, ini adalah kesempatan pertama mereka untuk menapaki gunung dengan ketinggian di atas 3.000 mdpl.

Trek Berpasir Beberapa Puluh Meter Jelang Puncak Ciremai via Sadarehe
Trek Berpasir Beberapa Puluh Meter Jelang Puncak Ciremai via Sadarehe

Beruntung cuaca pagi itu sangat bersahabat. Langit terlihat cerah dan perlahan cahaya matahari mulai muncul dari ufuk timur. Pemandangan sunrise yang tersaji sepanjang jalur summit menjadi bonus yang membuat langkah terasa lebih ringan.

Setelah hampir empat jam berjalan dari area camp, kami akhirnya tiba di Puncak Sejati Gunung Ciremai pada pukul 07.07 WIB.

Tidak ada teriakan berlebihan atau selebrasi yang heboh. Yang saya lihat justru raut lega dan bangga dari wajah John dan Tyo. Setelah berjam-jam berjalan, mereka akhirnya berhasil menuntaskan pendakian gunung 3.000 mdpl pertama dalam hidup mereka.

Perasaan Lega Setelah Tiba di Pucak Ciremai via Trisakti Sadarehe
Perasaan Lega Setelah Tiba di Pucak Ciremai via Trisakti Sadarehe

Sebagai teman seperjalanan, saya juga ikut merasa bangga. Rasanya menyenangkan bisa menyaksikan secara langsung momen ketika seseorang berhasil mencapai target yang sebelumnya hanya menjadi angan-angan. Di atas ketinggian 3.078 mdpl, rasa lelah yang kami rasakan sepanjang perjalanan seolah terbayar lunas oleh pemandangan dan pengalaman yang didapat hari itu.

Also Read

Bagikan:

Traveler Blogger and Search Engine Optimization Specialist who finds joy in exploring mountains, embarking on solo adventures, and discovering culinary delights.
Tags

Tinggalkan komentar